BUDAYA BERFIKIR INSTAN DAN CARA MENANGGULANINYA
Seseorang yang berbudaya instan selalu menginginkan segala sesuatu berjalan
dengan cepat dan praktis tanpa proses,tanpa bersusah-susah, segera menghasilkan
sesuatu yang diinginkan .Hal semacam ini sudah menggejala dalam kehidupan
masyarakat khususnya generasi muda dewasa ini. Begitu juga dengan para pelajar kita
terdeteksi selalu ingin mencari jalan
pintas untuk berprestasi.Mereka sudah sangat susah untuk diajak berfikir dengan
proses natural .Bahkan jalan pintas/instan dalam berfikir sudah menjadi trend
bagi kalangan muda.Sebagai contoh ketika murid akan ujian,mereka tidak belajar
malah berkeliaran mencari bocoran soal.Murid hanya senang mengerjakan soal
bentuk pilihan ganda dan enggan mengerjakan soal essay.Murid tidak konsen jika
diterangkan proses terjadinya sesuatu atau langkah mengerjakan soal dan hanya
mengerti yang simpel-simpel saja.dll.
Orang orang yang membiasakan diri dengan jalan
pintas/instan akhirnya suka berpikir singkat tanpa mau mengikuti proses, tanpa
mau bersusah payah, yang penting tujuan tercapai. Padahal sebuah keberhasilan
besar memerlukan proses panjang sebagai sebuah perjalanan penuh perjuangan.
Sebuah proses juga akan menjadikan kematangan kepada seseorang dalam berfikir,
bersikap dan mengambil keputusan penting dalam hidup dan karier sesorang.
Cara berfikir instan membuat kita
melupakan proses natural dari sesuatu. Seseorang ingin pandai tetapi tidak mau
belajar dengan tekun dan sabar, Seseorang menjadi kaya tetapi tidak mau bekerja
giat tekun.Jika proses natural itu
ditinggalkan akibatnya akan berbahaya dan berdampak buruk karena akan mendorong
seseorang melakukan tindakan yang tidak terpuji.
Penyebab berfikir
instan
1. Pengaruh
perkembangan teknologi.
Teknologi telah membantu mempermudah dan mempercepat manusia dalam melakukan pekerjaan. Disadari atau tidak penggunaan teknologi telah mempengaruhi cara dan pola pikir manusia dalam menjalankan perannya.
Teknologi telah membantu mempermudah dan mempercepat manusia dalam melakukan pekerjaan. Disadari atau tidak penggunaan teknologi telah mempengaruhi cara dan pola pikir manusia dalam menjalankan perannya.
2. Pengaruh Media. Media telah menyajikan begitu banyak informasi termasuk iklan yang seolah2 segala yang baik dan sukses begitu mudah untuk dicapai, semua langsung bisa-langsung ada, tanpa proses. Melalui internet setiap orang bisa mendapatkan informasi apa saja tanpa batas dengan mudahnya. Segala informasi yang tersaji dan mudah diakses mendorong orang untuk berpikir praktis dan mencari mudahnya.
3.Pendidikan yang salah mengarah pada berfikir instan.Proses belajar mengajar yang ideal kurang begitu diperhatikan yang penting anak dapat mengerjakan dan menjawab soal2 dengan benar, dan lulus 100%. Orientasi pembelajaran lebih diarahkan agar anak mendapat nilai "angka" yang baik. Sedangkan nilai "proses" semakin tidak tersentuh. Karena berorientasi pada nilai angka, maka pembelajaran diarahkan sekedar sesuai indikator dan kisi-kisi, biar mudah, cepat dan praktis, ini berarti mengajari anak berfikir instan.
4. Situasi zaman yang memaksa bertindak secara instan.
Akibat buruk berfikir instan
1. Orang menjadi malas mengikuti proses yang semestinya.
Proses yang panjang dan berjenjang dianggap sesuatu yang menyebalkan dan lambat. Orang akan lebih terfokus pada hasil akhir, tidak mau mengikuti proses yang mesti dilalui.
Orang tidak lagi mau mengantri untuk suatu urusan. Mulai dari mengurus bikin KTP, beli tiket, bayar pajak dan sebagainya. Tidak usah antri, cukup bayar sejumlah uang kepada oknum yang ngurus "hasilnya beres".
2. Orang bisa saja menghalalkan cara demi suatu tujuan.
Tidak peduli bagaimana cara yang mesti ditempuh, yang penting "tujuan" tercapai. Ingin kaya dengan penghasilan pas-pasan, lalu putar otak bagaimana caranya agar lekas kaya. Sekalipun harus korupsi, mencuri, menipu dan sebagainya. Norma-norma agama bisa ditinggalkannya, karena demi satu tujuan "kaya".
3. Menjadikan generasi santai dan manja.
Terbiasa dengan yang serba mudah dan cepat membuat orang menjadi malas berusaha, malas kerja keras dan tumbuh menjadi generasi santai dan manja.
Akibat buruk berfikir instan
1. Orang menjadi malas mengikuti proses yang semestinya.
Proses yang panjang dan berjenjang dianggap sesuatu yang menyebalkan dan lambat. Orang akan lebih terfokus pada hasil akhir, tidak mau mengikuti proses yang mesti dilalui.
Orang tidak lagi mau mengantri untuk suatu urusan. Mulai dari mengurus bikin KTP, beli tiket, bayar pajak dan sebagainya. Tidak usah antri, cukup bayar sejumlah uang kepada oknum yang ngurus "hasilnya beres".
2. Orang bisa saja menghalalkan cara demi suatu tujuan.
Tidak peduli bagaimana cara yang mesti ditempuh, yang penting "tujuan" tercapai. Ingin kaya dengan penghasilan pas-pasan, lalu putar otak bagaimana caranya agar lekas kaya. Sekalipun harus korupsi, mencuri, menipu dan sebagainya. Norma-norma agama bisa ditinggalkannya, karena demi satu tujuan "kaya".
3. Menjadikan generasi santai dan manja.
Terbiasa dengan yang serba mudah dan cepat membuat orang menjadi malas berusaha, malas kerja keras dan tumbuh menjadi generasi santai dan manja.
4. Mudah frustasi
karena hanya mengerti satu jalan,padahal dengan berfikir proses dapat ditemukan
berbagai jalan penyelesaian terhadap permasalahan
5. Tidak dapat
menghargai jerih payah orang lain karena menganggap mereka juga mendapatkan
dengan instan.
6. Mudah
dipermainkan situasi dan mudah dijadikan objek pasar/produk.
7. Sukar diajak
maju.
.Cara menanggulanginya
.Cara menanggulanginya
1.Bagi pemerintah
harus menciptakan situasi kehidupan yang harmonis bagi warga negaranya,seperti
dalam memetapkan peraturan-peraturan harus mengarah pada berfikir secara
proses.
2. Dalam dunia
pendidikan harus dijamin pelaksanaan pendidikan yang mengarah pada pendekatan
proses,tidak mementingkan nilai semata,kelulusan tidak hanya dinilai dalam satu
sisi saja melainkan diarahkan pada pembelajaran yang komprehensif,menerapkan
kurikulum yang sesuai untuk berkembangnya proses berfikir natural.
3. Bagi guru hendaknya
melakukan kbm dengan pendekatan proses,melakukan penilaian autentik dan
memberikan keteladanan yang nyata.
4. Bagi siswa
hendaknya dapat memilih dan memilah informasi didunia maya maupun masmedia
yang memberi perkembangan kemampuan berfikir.
5. Bagi
masyarakat dan orangtua hendaknya memberikan contoh yang baik bagi generasi
muda dan memberikan ruang untuk berkembangnya kreasi dan berfikir kawula muda.
No comments:
Post a Comment