PROFESI KOMPLEK SEORANG GURU DAN BUDAYA BERFIKIR INSTAN
Kita mengenal seabrek metode dan pendekatan yang bisa diterapkan untuk mengantarkan anak didik menuju keberhasilan belajar,tetapi kita juga menyadari metode,pendekatan dan strategi macam apapun yang diterapkan tidak mampu menjamin keberhasilan,hal ini terkait kompleknya faktor yang mempengaruhi pelaksanaan kbm disekolah maupun proses belajar dimasyarakat dan keluarga. Inilah rumitnya mendidik diera sekarang ini.
Ketika seorang guru mengajar akhlak mulia di sekolah,maka di masyarakat atau keluarga mungkin peserta didiknya melihat kenyataan yang berbeda,padahal waktu disekolah sangatlah sedikit,wal hasil pelajaran yang diterima disekolah tentu tidak dapat diterapkan karena kondisi yang tidak memungkinkan.Segudang permasalahan ditemukan seorang guru ketika mengajar dikelas.
Sebagai contoh kecil ditemukan anak didik yang sebenarnya tekun,tetapi nilainya kurang baik,ada lagi anak yang tidak tekun tetapi nilainya baik,ada lagi anak yang suka bolos sekolah,ada lagi anak yang sering membuat ulah dll fenomena dalam mendidik.Dalam percakapan keseharian mungkin kita mendengar kasus anak bisa lebih buruk dari contoh diatas.Sebagai misal anak didik yang tidak mau mengerjakan latihan soal,anak malas berfikir ,diterangkan tidak memperhatikan ,disuruh belajar tidak mau tetapi anehnya ia ingin berhasil dan nilainya bagus.(fenomena yang aneh diluar nalar sehat).Mungkin ini yang disebut budaya instan telah merasuki peserta didik.
Jika betul budaya ini telah merasuki para remaja maka berarti kita hanya siap untuk menjadi konsumen,kita hanya siap untuk dijajah,kita siap untuk jadi jongos dinegeri sendiri,kita siap untuk menjadi permainan orang lainn(bangsa lain) pada akhirnya kita hanya menjadi penonton saja tanpa mau menjadi pemain.Dalam suasana seperti ini tentu kreatifitas tak akan muncul,kemajuan tak akan dicapai,Kesuksesan hidup tak akan teraih.
Guru sebagai elemen kecil dalam dunia pendidikan harus menanggulangi bahaya yang sebesar itu,ini tidak mudah.inilah rumitnya menjadi guru.Sering alamat alamat tidak baik tentang perilaku dan akhlak ditujukan pada ketidak profesionalisme guru.Padahal kompetensi profesi dan paedagogik sudah dilakukan dengan baik dan itu bisa dilihat buktinya disekolah.Akan tetapi ketika dirumah maka perilaku pesdik tentu tidak dapat dikontrol oleh seorang guru.Yang kelihatan menyolok pengaruh dunia luar pendidikan terhadap cara berfikir anak adalah keengganan dan kemalasan anak untuk melakukan proses berfikir menemukan masalah,yang biasa kita sebut budaya berfikir instan.
Budaya berfikir instan itu bisa disebabkan oleh beberapa hal:
1.Pola mengajar guru pada tahap-tahap awal anak mengenal bvelajar(pendidikan usia dini) yang tidak menggunakan pendekatan proses.
2.Penyajian soal-soal tes yang hanya menggunakan tes model pilihan ganda,baik di UH,UTS,UAS maupun UN.Penyajian soal model ini akan memicu guru maupun pesdik hanya melakukan kegiatan bagaiman menjawab yang benar dengan cepat dan tepat.maka tak asing jika di lembaga bimbingan selalu ditekankan bagaimana cara menjawab soal dengan cepat dan tepat tanpa melalui proses berfikir yang benar dan metode yang benar.
3.Kepribadian guru yang hanya suka memberi nilai di atas kertas,tidak mau peduli terhadap proses anak dalam belajar,artinya tidak menggunakan penilaian yang autentik.
4.Kebijakan pemerintah yang kurang memberi ruang untuk terlaksananya proses berfikir yang berkembang,misalnya tidak adanya alokasi waktu untuk jam-jam praktik sehingga anak hanya dijejali teori tanpa diberi kesempatan membuktikan teori tersebut seperti metodenya para penemu.
5.Pengaruh peralatan multimedia yang menyajikan banyak kemudahan ,sehingga enggan untuk berfikir menemukan.
6.Pengaruh kehidupan sosial masyarakat dan keluarga yang konsumtif.
No comments:
Post a Comment