Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Thursday, 8 August 2013

ISTIQOMAH PASCA RAMADHAN
Menjelang 1 bulan Ramadhan yang telah meninggalkan kita, suasana spiritual yang sangat kental, kondisi ruhani yang demikian bersemangat dan hidup serta gelora ibadah dan kekhusyu’an yang senantiasa kita temui disetiap jengkal nafas dan langkah kita, mulai sirna dan mulai menampakkan watak aslinya… Syawal pun tak lama lagi pergi berlalu, anugerah “sittan min syawalin” yang diibaratkan seperti berpuasa sepanjang tahun juga akan pergi, bisa jadi ini adalah Ramadhan dan Syawal terakhir kita.
Lalu, pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa mempertahankan suasana, semangat dan kekhusyu’an seperti yang kita miliki dalam Ramadhan? Adalah dengan sikap istiqomah atau konsisten. Berusaha sekuat tekad dan tenaga untuk senantiasa melaksanakan ketaatan dan peribadatan dalam setiap situasi dan kondisi, insya Allah suasana, semangat dan kekhusyu’an yang hampir mirip kita akan dapati dalam 11 bulan berikutnya. “Khairul a’maali maa daama wain qalla. Sebaik-baik amal perbuatan adalah yang berkesinambungan meskipun kuantitasnya sedikit.” Demikian sabda Rasulullah saw. Rasul juga tidak senang terhadap orang yang “ngebut” dan “ngebet” dalam menjalankan suatu ibadah kemudian ia jenuh dan akhirnya meninggalkannya sama sekali.
Pernah ada seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah saw. satu kata atau satu ajaran yang ia tidak akan bertanya lagi selainnya dalam kehidupan ini. Maka Rasulullah saw. menjawab: “Qul amanu billah tsumastaqimu. Katakanlah saya beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” Sebuah pertanyaan yang manusiawi, pertanyaan sebagai bekal dan pegangan hidup yang dibanggakan dan diamalkan. Dan jawabannya pun tidak panjang apalagi berbelit berbelit. Hanya dua kata kunci kehidupan, yaitu Iman dan Istiqamah.
Allah swt. berfirman dalam surat Fushshilat ayat 30-32.
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan Jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kami-lah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Dalam tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Al-Ustad Sayyid Qutb menjelaskan bahwa:
Keistiqomahan dalam memegang teguh pernyataan “Rabb kami adalah Allah” berarti keistiqomahan dalam mengaktualisasikan dan membenarkannya, keistiqomahan yang dirasakan oleh hati dan yang dilaksanakan dalam kehidupan nyata, keistiqomahan dalam melaksanakan berbagai implikasi serta kewajibannya ketika kita bersyahadat bahwa tiada tuhan selain Allah. Tentu saja ini adalah perkara yang berat dan sulit. Karena berat dan sulit itulah , orang-orang yang beristiqomah akan mendapatkan kenikmatan yang luar biasa besar di sisi Allah berupa kebersamaan dengan para malaikat, perlindungan mereka dan kasih sayang mereka. Inilah yang tampak dari apa yang dikisahkan Allah tentang mereka, Malaikat berkata kepada temannya yang beriman:
“…Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan Jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kami-lah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat…”
Kemudian digambarkan kepada mereka surga yang dijanjikan sebagai penggambaran seorang sahabat kepada sahabatnya tentang apa yang dia ketahui:
“…di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Subhanallah, ini adalah janji yang Allah siapkan buat orang-orang yang senantiasa beristiqomah.
Al Qur’an dan As Sunnah menganjurkan umatnya untuk berlomba-lomba dalam mengamalkan kebajikan dan amal shalih, akan tetapi Al Qur’an dan As Sunnah tidaklah melupakan berbagai keadaan yang sedang dan akan dialami oleh masing-masing manusia. Setiap orang pasti melalui berbagai fase dari pertumbuhan fisik, biologis, mental dan berbagai perubahan dan keadaan yang meliputinya. Oleh karena itu Al Qur’an dan As Sunnah senantiasa mengingatkan umatnya agar dalam beramal senantiasa memperhatikan berbagai faktor tersebut, sehingga tidak terjadi berbagai ketimpangan dalam kehidupan mereka, baik pada saat beramal atau pada masa yang akan datang. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dalam banyak haditsnya telah menjelaskan dengan gamblang metode beramal semacam ini, diantaranya pada sabda Beliau:
Pada suatu hari Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash rodhiallahu ‘anhu berkata, ‘Seumur hidupku, aku akan sholat malam terus menerus dan senantiasa berpuasa di siang hari.’ Tatkala Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dilapori tentang ucapan sahabat ini, beliau memanggilnya dan menanyakan perihal ucapannya tersebut. Tatkala Abdullah bin ‘Amer bin Al ‘Ash mengakui ucapannya tersebut, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, Engkau tidak akan kuat melakukannya, maka berpuasalah dan juga berbukalah (tidak berpuasa). Tidur dan bangunlah (sholat malam). Dan berpuasalah tiga hari setiap bulan, karena setiap kebaikan akan dilipatgandakan supuluh kalinya, dan yang demikian itu sama dengan puasa sepanjang tahun.’ Mendengar yang demikian, Abdullah bin ‘Amr Al ‘Ash berkata, ‘Sesungguhnya aku mampu melakukan yang lebih dari itu’ Beliau menjawab, ‘Puasalah sehari dan berbukalah dua hari.’ Abdullah bin ‘Amr Al ‘Ash kembali berkata, ‘Sesungguhnya aku mampu melakukan yang lebih dari itu.’ Beliau menjawab, ‘Puasalah sehari dan berbukalah sehari, dan itulah puasa Nabi Dawud ‘alaihissalaam dan itulah puasa yang paling adil.’ Mendengar yang demikian, Abdullah bin ‘Amr Al ‘Ash berkata, ‘Sesungguhnya aku mampu melakukan yang lebih dari itu.’ Beliau menjawab, ‘Tidak ada puasa yang lebih utama dari itu.’ Kemudian semasa tuanya Abdullah bin ‘Amr Al ‘Ash menyesali sikapnya tersebut dan beliau berkata, ‘Sungguh seandainya aku menerima tawaran puasa tiga hari setiap bulan yang disabdakan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, lebih aku sukai dibanding keluarga dan harta bendaku.’ (Kisah ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu sebagian ulama’ menjelaskan bahwa metode yang benar dalam beramal agar dapat istiqomah sepanjang masa dan dalam segala keadaan:
“Beramallah sedangkan engkau dalam keadaan khawatir, dan beristirahatlah dari beramal dikala engkau masih menyukai amalan tersebut (bersemangat untuk beramal).”
Disadur ulang dari:
- http://alimancenter.com/index.php?option=com_content&view=article&id=420:istiqomah-bada-ramadhan&catid=101:buletin-al-iman&Itemid=18
- Tafsir Fi Zhilalil Qur’an

Thursday, 27 June 2013

Mulai 2013, Guru Tak Boleh Mengajar?

OPINI | 17 November 2012 | 07:04 Dibaca: 2937   Komentar: 21   17
Telah 13 tahun saya menjadi guru sejak pengangkatan pada 1 Maret 1999. Setelah diangkat menjadi guru, saya mulai memelajari tugas pokok dan fungsi guru atau yang lebih dikenal dengan tupoksi. Ada lima tupoksi guru, yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakannya, mengevaluasinya, meremidinya, dan memerkayanya. Lima tugas itu akan menghasilkan out put yang luar biasa baiknya manakala guru sudah melakukan kelimanya penuh kesungguhan. Dan itu terbukti benar. Menurutku, out put atau lulusan terdahulu memiliki kompetensi lebih bagus daripada lulusan sekarang.
Namun, agaknya pemerintah (dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) kurang kerjaan. Bukannya mengoptimalkan tupoksi tersebut, melainkan menambah dan menambah beban guru seraya memberikan tuntutan-tuntutan agar guru tak lagi mengajar. Mengapa? Karena tuntutan itu selalu dan selalu berkaitan dengan ketertiban administrasi alias portofolio pekerjaan. Bukannya penilaian kinerja faktual, melainkan penilaian teoritis yang dibungkus fakta tertulis.
Masih teramat jelas terbayang manakala guru-guru diributkan oleh pelaksanaan sertifikasi guru. Begitu banyak kasus terjadi tentang penipuan dokumen-dokumen agar lolos dari penilaian tersebut. Mulai dari penipuan sertifikat, ijazah, dokumen adminsitrasi pengajaran dan lain-lain. Bagi yang dinyatakan lolos, ia dinyatakan lulus sertifikasi guru melalui jalur penilaian portofolio. Bagi yang tidak dinyatakan lolos, langsung ia diwajibkan mengikuti PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru). Dan selama PLPG, ribuan siswa menjadi telantar karena ditinggalkan gurunya. Maka, hasil pendidikan justru mengalami penurunan secara drastis!
Belum hilang dari bayangan kebijakan sertifikasi, guru-guru harus mengikuti Uji Kompetensi Guru (UKG). Jutaan murid telantar karena ditinggalkan para guru yang harus mengikuti UKG di seberang sana. Mungkin tak pernah terpikir oleh Kemendikbud bahwa guru-guru itu berdomisili dan mengajar nun jauh di pelosok pulau terpencil. Hasilnya teramat mencengangkan: nyaris 95% guru dinyatakan tak lulus UKG! Dan Kemendikbud diam seribu basa!
Belum hilang ingatan dari itu, mulai tahun 2013, lagi-lagi, pemerintah akan menggulirkan kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah atau PP 53/2010 tentang Disiplin PNS dan PP 46/2011 tentang Penilaian Prestasi Kerja PNS. PP 53 tahun 2010 jelas mengatur perilaku disiplin pegawai. Dalam PP 53 tahun 2010, pegawai tak boleh seenaknya melakukan tindakan-tindakan selama melaksanakan pekerjaan.
Selain PP 53/2010 tentang Disiplin Pegawai, pemerintah pun telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah  Nomor 46 Tahun 2011 tentang Penilaian Prestasi Kerja Pegawai Negeri Sipil PNS sebagai pengganti DP3. PP itu bertujuan untuk meningkatkan prestasi dan kinerja PNS.  PP ini merupakan penyempurna dari PP Nomor 10 Tahun 1979 tentang Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan PNS yang dianggap tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan dan kebutuhan hukum. Prestasi kerja PNS akan dinilai berdasarkan 2 (dua) unsur penilaian, yakni (1) SKP (Sasaran Kerja Pegawai), yaitu: rencana kerja dan target yang akan dicapai oleh seorang PNS dan Perilaku kerja, yaitu: setiap tingkah laku, sikap atau tindakan yang dilakukan oleh PNS atau tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
PP ini mensyaratkan setiap PNS wajib menyusun SKP berdasarkan rencana kerja tahunan instansi. SKP itu memuat kegiatan tugas jabatan dan target yang harus dicapai dalam kurun waktu penilaian yang bersifat nyata dan dapat diukur. Dalam PP itu juga disebutkan, bahwa PNS yang tidak menyusun SKP dijatuhi hukuman disiplin sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang mengatur mengenai disiplin PNS.
Adapun penilaian perilaku kerja meliputi aspek: orientasi pelayanan, integritas, komitmen, disiplin, kerjasama, dan kepemimpinan. Khusus penilaian kepemimpinan hanya dilakukan bagi PNS yang menduduki jabatan struktural. Penilaian prestasi kerja PNS ini dilaksanakan sekali dalam 1 (satu) tahun, yang dilakukan setiap akhir Desember pada tahun yang bersangkutan dan paling lama akhir Januari tahun berikutnya. Ketentuan mengenai peraturan penilaian PNS ini juga berlaku bagi Calon PNS (CPNS).
Berdasarkan ketentuan-ketentuan di atas, saya berpendapat bahwa PP itu sama saja melarang guru (PNS) untuk tekun mengajar anak didik di depan kelas. Dengan setumpuk pekerjaan itu, teramat sulit bagi guru (PNS) bekerja secara efektif. Mereka jelas akan menitikberatkan pekerjaan administrasi daripada pembelajaran. Terlebih, masih begitu banyak guru-guru membantu pekerjaan sampingan sebagai walikelas, bendahara BOS, wakil kepala sekolah, koordinator ekstrakurikuler, dan beragam tugas lainnya. Lalu, kapan guru mengajar murid-muridnya?
Teriring salam,
 ANCAMAN BUAT GURU 2013
 
Pengaturan kenaikan pangkat guru telah mengalami tiga fase. Fase pertama adalah kenaikan pangkat otomatis, yaitu dalam kurun 4 tahun sekali. Hal ini mirip dengan kenaikan pangkat pada jenjang struktural.
Kenaikan pangkat tersebut kemudian diganti pemerintah dengan sistem perhitungan angka kredit karena apabila tetap diberlakukan, maka banyak guru yang akan dengan mudah pensiun pada golongan IV e.
Fase selanjutnya adalah kenaikan pangkat yang menggunakan angka kredit kumulatif (sesuai dengan PERMENPAN Nomor 84/1993 dan PERMENDIKNAS Nomor 025 tahun 1995). Kenaikan pangkat ini lebih bersifat administratif karena besarnya poin angkat kredit lebih banyak ditunjukkan oleh prestasi kuantitas administrasi yang dihasilkannya, mulai dari kegiatan utama seorang guru seperti menyusun program pengajaran, menyajikan program pengajaran, melaksanakan evaluasi belajar, dan seterusnya.
Kenaikan pangkat ini pada akhirnya diganti pemerintah karena disinyalir masih banyak guru yang hanya sekedar melengkapi bukti administrasi saja yang notabene dianggap “fiktif”. Sementara itu, fase ketiga adalah kenaikan pangkat guru yang menggunakan PKG (Penilaian Kinerja Guru), yang akan diberlakukan efektif mulai awal tahun 2013 nanti. Peraturan yang dimaksud adalah Praturan Menteri Pendidikan Nasional No. 35 tahun 2010, sebagai tindaklanjut dari Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatu Negara No. 16 tahun 2009 (dapat anda download di sini).
Banyak yang beranggapan (terutama non-guru), bahwa yang dilakukan pemerintah adalah terobosan baru yang sudah tepat. Terbukti dari sekian banyak media online yangmengungkap tentang PKG ini, disambut dengan hangat.
Berbeda bagi admin, aturan baru PKG yang efektif berlaku januari 2013, adalah peraturan yang bakal “mencekik” guru. Banyak hal yang layak dipertanyakan, baik secara teoretis, maupun faktual. Hal mendasar dari semua itu adalah gambaran peraturan yeng semestinya hanya tepat diberlakukan di wilayah tertentu Indonesia, atau semestinya berlaku bagi yang sudah memiliki golongan IV a ke atas.
Dasar pemikiran ini muncul ketika seakan imej masyarakat melihat kesejahteraan guru yang bukan lagi seperti sosok “oemar bakri”. Guru hari ini mendapat kesejahteraan yang lebih dengan berbagai tunjangan termasuk program sertifikasi guru. Pihak non-guru “berang”, seakan merasa tidak adil. Mereka mengatakan, guru mendapat sertifikasi, dan mendapat libur lebih. Admin menegaskan “itu salah”. Pekerjaan seorang guru, bukan hanya duduk, bukan hanya mengajar dan atau mendidik, tapi setumpuk pekerjaan yang harus dibawa pulang seusai mengajar. Bayangkan dengan aturan jam tatap muka minimal 24 jam per pekan, maka bagi yang memiliki jam mata pelajaran bidang studi hanya 2 jam per pekan, maka guru tersebut harus manghadapi 12 kelas, jika satu kelas terdiri dari 25 siswa, maka per pekan guru tersebut akan menghadapi/mengurusi 300 siswa. Coba pembaca membayangkan jika satu pekan 12 kelas ini masing-masing diberi soal evaluasi 5 nomor SAJA dengan model pemeriksaan hasil jawaban sistem bobot, maka guru tersebut akan memeriksa/membaca/menganalisa 1500 soal dengan sistem bobot nilai, yang berdasarkan pengalaman, jika diperiksa dibutuhkan paling cepat 2 menit per nomor soal. Artinya dibutuhkan 3000 menit per pekan HANYA UNTUK MEMERIKSA HASIL EVALUASI TIAP PERTEMUAN, belum yang lain. Sekali lagi, BELUM PEKERJAAN RUMAH YANG LAIN BERKAITAN DENGAN 300 siswa tadi. Contoh ini menegaskan bahwa keliru jika dikatakan bahwa pekerjaan guru adalah pekerjaan mudah, mendapat tunjangan tinggi dengan libur beruntun.
Munculnya aturan PKG menuntut profesionalisme guru sesuai harapan pemerintah yang sampai hari ini, arah tujuan pendidikan yang dianggap berhasil itu justru tidak jelas. Hal ini berakibat syarat uji profesionalisme guru pun menjadi tidak jelas. Lihat aturan seorang guru profesional harus memiliki sertifikat. Untuk mendapatkan sertifikat, bagi yang masih......mengikuti pendidikan dan pelatihan oleh perguruan tinggi yang ditunjuk selama -+1 bulan. Apakah profesionalisme tercapai hanya dalam DIKLAT 1 bulan??.
Ketika regulasi ini belum berhasil, muncullah regulasi baru, yang insya Allah memancing kolusi baru di tingkat daerah. Ini menunjukkan, regulasi yang ditetapkan pemerintah seakan tidak melihat yang dibuat sebelumnya sudah sesuai atau belum dengan regulasi yang telah ada.
Referensi Makalah®
*Refleksi admin

Sunday, 16 June 2013

Kebahagian Seorang Guru
Joko Wahyono

Suatu ketika di kantor guru, saya kedatangan seorang tamu, seorang teman memberi tahu saya bahwa saya sedang dicari seseorang berseragam polisi, wah ada apa nich..? tanya saya dalam hati, pikiran saya sudah mulai menebak-nebak, apa ada anak yang tawuran? Atau ada sesuatu yang tidak beres di sekolah ini, pikir saya. Dengan deg-deg an, saya minta tamu tersebut masuk ke ruang kantor saya. Sesaat masuk, tamu dengan pakaian dinas polisi tersebut, memberi hormat kepada saya dan dengan sikap tegap mengatakan. “Lapor Pak, Saya Letnan Satu Herzoni Saragih, murid Bapak angkatan pertama SMP YPPSB, saat ini bertugas menjadi Kepala Polisi Sektor ....di Kabupaten Bulungan Kaltim”. Sontak saya peluk dia. Herzoni bercerita banyak tentang tugas-tugasnya, teman seangkatannya yang telah jadi dokter, pengusaha cargo, ada yang jadi karyawan di perusahaan asing, ada yang melanjutkan kuliah di luar negri dan lain-lain. Mendengar itu semua, ada air mata bahagia, ada aliran hangat yang menyelimuti hati saya. Ada rasa bangga bahwa murid saya telah berhasil mencapai apa yang dicita-citakan, ada rasa haru atas pengakuan dan rasa hormat murid saya tersebut, walau sudah berpisah sekian lama. Ada rasa bahagia di hati saya.

Pada kisah yang lain, saya mendapat informasi dari teman-teman guru dan para orang tua murid bahwa salah satu bekas murid saya yang dulu sangat dekat dengan saya, telah menjadi preman di kawasan Town Hall, sebuah kawasan perniagaan di kota Sangatta kabupaten Kutai Timur. Namanya sebut saja Robin. Dari info yang saya dapatkan penampilan Robin sudah sangat berbeda, rambutnya gondrong, pakai kalung, dan anting-anting, pakaian khasnya rompi kulit, pakai ikat kepala gaya penyanyi rap, matanya merah, mulutnya bau minuman keras, dan lain-lain. Pendek kata label preman telah diberikan lingkungannya terhadap Robin. Ada rasa gundah di hati saya, ada rasa sedih yang menyelimuti hati saya, ada beribu-ribu pertanyaan di pikiran saya, apa yang terjadi pada anak tersebut? Dan mengapa dia memilih menjadi preman pasar seperti itu?

Suatu ketika, secara tidak sengaja saya bertemu Robin, dia ingin menghindari saya namun saya coba panggil namanya, saya hampiri dan salami dia dengan hangat. Saya tatap matanya?, saya menduga ada luka yang mendalam terlihat dari sorot matanya. Saya tanya apa kabarnya?, dia menjawab yah beginilah Pak, seperti yang bapak lihat. Dia mengatakan, apakah Bapak tidak malu mempunyai murid seperti saya? Tanyanya. Saya menjawab "Malu?, mengapa harus malu?, jadi apapun kamu, kamu telah ditakdirkan menjadi murid saya. Kata-kata itu spontan keluar dari mulut saya. Kami mencari tempat duduk yang nyaman, di teras sebuah toko yang dirindangi pohon. Saya menjadi pendengar yang baik dari masalah yang telah menimpa dirinya, “Ayah saya kawin lagi, dia tidak mempedulikan kami, dia berlaku kasar terhadap Ibu saya, Kalau ketemu akan saya bunuh mereka”. Kata Robin dengan geramnya. Saya mencoba berempati, mendengarkan "curhat"nya, setelah semua sudah dicurahkan saya mencoba menanyakan kembali sebenarnya dia dulu memiliki cita-cita seperti apa?, ”Saya ingin jadi arsitek Pak, saya tinggalkan kuliah saya karena masalah ini”. Katanya. Tidak banyak yang bisa saya berikan, saya hanya mendengarkan dan menggali harapannya. Sebelum berpisah, saya tepuk pundaknya dan saya katakan, “Kamu anak cerdas dan kamu pasti bisa jadi Arsitek”.  Saya sampaikan juga  bahwa  saya bersedia bertemu kapan saja yang dia butuhkan.

6 bulan kemudian, saat saya dan keluarga sedang menikmati liburan di Kawasan  Mall Mesra Indah di Samarinda. Ada seorang pemuda memanggil saya, Pak Joko...Pak Joko...., Saya Robin Pak. Saya hampir tidak mengenalnya, rambutnya rapi, pakaiannya rapi dan sopan, sorot matanya penuh keceriaan. Dia mengatakan, saat ini saya kuliah lagi, Pak. Setelah bertemu dengan Bapak, saya terus berpikir dan akhirnya memutuskan kuliah lagi. Subhanallah, perasaan saya yang awalnya gundah, sedih berubah menjadi begitu senang, haru dan bahagia.

Saturday, 15 June 2013

Bagaimana Cara Mengukur Kemampuan Siswa Kalau Tidak Ada Ujian Nasional?
Oleh Dhitta Puti Sarasvati


Beberapa pihak menuntut Ujian Nasional (UN) untuk dihentikan karena berbagai alasan. UN mendorong guru untuk mengajar sekadar untuk tujuan lulus ujian (teaching to the test). UN juga kurang bisa menggambarkan perkembangan kemampuan siswa selama di sekolah. Yang tidak kalah penting, UN hanya dilakukan dalam beberapa hari tapi sangat menentukan masa depan siswa.

Banyak orang yang tidak bisa membayangkan dunia persekolahan tanpa UN. Padahal, sangat mungkin, bahkan memang seharusnya. Data untuk menentukan kelulusan siswa seharusnya diambil dari serangkaian evaluasi di kelas yang disebut assessment . Assessment harus dilakukan secara berkala, khususnya di dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Assessment adalah sebuah alat yang bisa digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa. Ulangan harian, pekerjaan rumah (PR), termasuk contoh-contoh assessment. Namun, bentuk-bentuk assessment jauh lebih banyak daripada sekadar ulangan harian ataupun PR. Yang penting, assessment harus memenuhi salah satu prinsip dasar yakni ia harus bisa mengukur apa yang memang ingin diukur (McAlpin, 2002).

Dalam evaluasi proses belajar mengajar, apa yang perlu diukur biasanya tercantum dalam tujuan pembelajaran (learning objectives). Misalnya, siswa kelas 6 SD diharapkan dapat �mendeskripsikan  perkembangan dan pertumbuhan manusia dari bayi sampai lanjut usia� (KTSP, 2006). Untuk bisa melakukan ini, guru perlu membuat kegiatan pembelajaran yang memungkinkan siswa mencapai tujuan pembelajaran di atas. Siswa bisa diminta membawa fotonya dari saat dia masih bayi (beberapa bulan), foto saat dia 1,2, 3, tahun, dan seterusnya sampai seusianya sekarang.  Lalu, siswa diminta menceritakan mengenai apa yang terjadi dengan tubuhnya selama itu dan meminta mereka menebak apa yang akan terjadi saat mereka semakin tua. Kemudian, siswa diminta untuk mencari bacaan terkait perkembangan manusia dan mendiskusikannya di kelas. Saat akhir sesi mengenai topik ini siswa bisa diminta membuat sebuah gambar yang dilengkapi deskripsi tertulis mengenai perkembangan manusia. Ini merupakan salah satu contoh assessment yang bisa menunjukkan apakah siswa sudah berhasil mencapai tujuan pembelajaran.

Memang, pada dasarnya assessment tidak dapat dipisahkan dengan proses pembelajaran. Sebagai contoh, saat pelajaran IPA siswa belajar dengan membuat percobaan tertentu. Assessment bisa berupa sebuah jurnal yang berisi foto, tabel berisi data yang diperoleh dari percobaan, serta hasil analisa yang bisa ditampilkan dalam bentuk tertulis maupun dilengkapi gambar. Dalam pelajaran bahasa Indonesia, siswa belajar membaca dan mengungkapkan pendapatnya mengenai buku tersebut. Siswa dapat diminta membaca sebuah buku, lalu mendiskusikan mengenai buku tersebut dengan temannya. Untuk pembelajaran seperti ini assessment berupa tulisan siswa yang menggambarkan pendapatnya mengenai buku tersebut.

Untuk menilai karya siswa, guru bisa dibantu dengan sebuah rubrik. Rubrik adalah sebuah alat penilaian (biasanya berupa tabel) yang secara eksplisit menggambarkan apa yang diharapkan dari sebuah tugas atau karya.


Ada cara lain untuk melakukan assessment. Guru bisa membuat cek-list berisi indikator yang menggambarkan target yang harus dicapai masing-masing siswa. Indikator ini, diturunkan dari kompetensi dasar (KD) yang ada dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP, 2006). Guru menandai indikator yang telah dicapai oleh siswa.



Ada berbagai cara untuk melakukan assessment. Assessment juga bisa dirancang sedemikian rupa agar siswa tertarik mengerjakannya. Assessment memang perlu dilakukan secara berkala. Daripada menggunakan sebuah ujian nasional sebagai penentu kelulusan, siswa bisa diminta memilih karya-karya terbaiknya selama bersekolah dan mengumpulkannya dalam sebuah portfolio.  Bahkan, siswa juga bisa diajarkan untuk membiasakan diri meng-assess dirinya sendiri, misalnya dengan meminta siswa menuliskan perkembangannya dalam belajar sepanjang semester.

Hasil dokumentasi assessment yang menunjukkan perkembangan belajar siswa selama belajar di sekolah menjadi bukti bahwa siswa telah belajar begitu banyak selama di sekolah. Kerja keras siswa terlihat dengan kualitas karya yang dihasilkannya. Assessment secara berkala di dalam kelas berarti kita tetap bisa mengukur kemampuan siswa, dan perkembangan belajar siswa dari waktu ke waktu, bahkan tanpa UN sekalipun. Selama proses pembelajaran di kelas berfokus pada tujuan pembelajaran, bukan sekadar menghabiskan materi dalam buku teks atau driling soal, maka assessment berkala akan jauh menunjukkan kualitas siswa daripada UN!

Tuesday, 22 January 2013

BERWIBAWA DI DEPAN KELAS

      Salah satu kunci keberhasilan guru dalam kegiatan belajar dan mengajar dikelas adalah kewibawaan yang dipancarkan lewat karisma yang dimilikinya.Wibawa seorang guru menentukan terciptanya suasana kelas yang kondusif untuk pelaksanaan pembelajaran yang optimal.Seorang guru yang berwibawa akan menjadikan siswa patuh terhadap guru tanpa harus memarahinya,sebaliknya guru yang tidak berwibawa dapat  mengakibatkan suasana kelas yang tidak kondusif,gaduh,dan mungkin terjadi saling ganggu diantara siswa.Tentu saja suasana yang seperti ini tidak dapat dipakai untukkegiatan pembelajaran yang baik.
      Diera zaman yang sarat dengan arus informasi dan tehnologi sekarang ini,mengharuskan guru untuk memberi porsi waktu yang lebih besar pada pengelolaan kelas dibandingkan penyajian materi.Sebab kebanyakan siswa mungkin telah banyak mengakses materi lewat berbagai media,yang terkadang membuat siswa menjadi tidak perhatian pada guru dikarenakan merasa sudah tahu.Berbeda dengan karakter siswa pada zaman dulu yang masih sangat patuh pada guru,sehingga guru mudah menciptakan suasana yang kondusif.Meskipun zaman telah berubah dengan segala konsekwensinya,wibawa seorang guru tetap menjadikan kunci bagi terselenggaranya pendidikan yang efektif dan kondusif.Dengan kewibawaan mungkin akan membuat siswa melakukan kegiatan dengan kesadaran tanpa harus kita awasi dan kita perintah.
      Berikut beberapa anjuran agar guru menjadi berwibawa:
1.Jangan memaksakan diri pada siswa untuk menghormati dirinya dengan cara-cara yang kasar,menekan psikisnya,memarahi dan lain -lain tindakan yang tidak nyaman.
2.Jangan mengistimewakan salah satu siswa,karena dengan perbuatan semacam ini siswa lain menjadi merasa tidak diperhatikan.Keadilan guru harus diutamakan.
3.Jangan sekali-kali melecehkan siswa dengan menyerang kehormatannya,bagaimanapun siswa juga memiliki kehormatan yang perlu diperhatikan.
4.Sering memotivasi murid agar berhasil.
5.Berpakainlah yang rapi
6.Kuasailah materi yang akan diajarkan dengan sebaik-baiknya disertai daya dukung ilmu lain bila diperlukan
7.Disiplin dalam menggunakan waktu yang disediakan
8.Rajin dan tekunlah dalam beribadah
9.Terus mengembangkan kemampuan keilmuan mendidik

Monday, 21 January 2013

Budaya berfikir instan dan cara menanggulanginya


BUDAYA BERFIKIR INSTAN DAN CARA MENANGGULANINYA


      Seseorang yang berbudaya instan selalu menginginkan segala sesuatu berjalan dengan cepat dan praktis tanpa proses,tanpa bersusah-susah, segera menghasilkan sesuatu yang diinginkan .Hal semacam ini sudah menggejala dalam kehidupan masyarakat khususnya generasi muda dewasa ini. Begitu juga dengan para pelajar kita terdeteksi selalu ingin mencari  jalan pintas untuk berprestasi.Mereka sudah sangat susah untuk diajak berfikir dengan proses natural .Bahkan jalan pintas/instan dalam berfikir sudah menjadi trend bagi kalangan muda.Sebagai contoh ketika murid akan ujian,mereka tidak belajar malah berkeliaran mencari bocoran soal.Murid hanya senang mengerjakan soal bentuk pilihan ganda dan enggan mengerjakan soal essay.Murid tidak konsen jika diterangkan proses terjadinya sesuatu atau langkah mengerjakan soal dan hanya mengerti yang simpel-simpel saja.dll.
      Orang orang yang membiasakan diri dengan jalan pintas/instan akhirnya suka berpikir singkat tanpa mau mengikuti proses, tanpa mau bersusah payah, yang penting tujuan tercapai. Padahal sebuah keberhasilan besar memerlukan proses panjang sebagai sebuah perjalanan penuh perjuangan. Sebuah proses juga akan menjadikan kematangan kepada seseorang dalam berfikir, bersikap dan mengambil keputusan penting dalam hidup dan karier sesorang.
      Cara berfikir instan membuat kita melupakan proses natural dari sesuatu. Seseorang ingin pandai tetapi tidak mau belajar dengan tekun dan sabar, Seseorang menjadi kaya tetapi tidak mau bekerja giat  tekun.Jika proses natural itu ditinggalkan akibatnya akan berbahaya dan berdampak buruk karena akan mendorong seseorang melakukan tindakan yang tidak terpuji.

Penyebab berfikir instan

1. Pengaruh perkembangan teknologi.
Teknologi telah membantu mempermudah dan mempercepat manusia dalam melakukan pekerjaan. Disadari atau tidak penggunaan teknologi telah mempengaruhi cara dan pola pikir manusia dalam menjalankan perannya.

2. Pengaruh Media. Media telah menyajikan begitu banyak informasi termasuk iklan yang seolah2 segala yang baik dan sukses begitu mudah untuk dicapai, semua langsung bisa-langsung ada, tanpa proses. Melalui internet setiap orang bisa mendapatkan informasi apa saja tanpa batas dengan mudahnya. Segala informasi yang tersaji dan mudah diakses mendorong orang untuk berpikir praktis dan mencari mudahnya.

3.Pendidikan yang salah mengarah pada berfikir instan.Proses belajar mengajar yang ideal kurang begitu diperhatikan yang penting anak dapat mengerjakan dan menjawab soal2 dengan benar, dan lulus 100%. Orientasi pembelajaran lebih diarahkan agar anak mendapat nilai "angka" yang baik. Sedangkan nilai "proses" semakin tidak tersentuh. Karena berorientasi pada nilai angka, maka pembelajaran diarahkan sekedar sesuai indikator dan kisi-kisi, biar mudah, cepat dan praktis, ini berarti mengajari anak berfikir instan.
4. Situasi zaman yang memaksa bertindak secara instan.

Akibat buruk berfikir instan

1. Orang menjadi malas mengikuti proses yang semestinya.
Proses yang panjang dan berjenjang dianggap sesuatu yang menyebalkan dan lambat. Orang akan lebih terfokus pada hasil akhir, tidak mau mengikuti proses yang mesti dilalui.
Orang tidak lagi mau mengantri untuk suatu urusan. Mulai dari mengurus bikin KTP, beli tiket, bayar pajak dan sebagainya. Tidak usah antri, cukup bayar sejumlah uang kepada oknum yang ngurus "hasilnya beres".

2. Orang bisa saja menghalalkan cara demi suatu tujuan.
Tidak peduli bagaimana cara yang mesti ditempuh, yang penting "tujuan" tercapai. Ingin kaya dengan penghasilan pas-pasan, lalu putar otak bagaimana caranya agar lekas kaya. Sekalipun harus korupsi, mencuri, menipu dan sebagainya. Norma-norma agama bisa ditinggalkannya, karena demi satu tujuan "kaya".

3. Menjadikan generasi santai dan manja.
Terbiasa dengan yang serba mudah dan cepat membuat orang menjadi malas berusaha, malas kerja keras dan tumbuh menjadi generasi santai dan manja.

4. Mudah frustasi karena hanya mengerti satu jalan,padahal dengan berfikir proses dapat ditemukan berbagai jalan penyelesaian terhadap permasalahan

5. Tidak dapat menghargai jerih payah orang lain karena menganggap mereka juga mendapatkan dengan instan.

6. Mudah dipermainkan situasi dan mudah dijadikan objek pasar/produk.

7. Sukar diajak maju.

.Cara menanggulanginya
1.Bagi pemerintah harus menciptakan situasi kehidupan yang harmonis bagi warga negaranya,seperti dalam memetapkan peraturan-peraturan harus mengarah pada berfikir secara proses.

2. Dalam dunia pendidikan harus dijamin pelaksanaan pendidikan yang mengarah pada pendekatan proses,tidak mementingkan nilai semata,kelulusan tidak hanya dinilai dalam satu sisi saja melainkan diarahkan pada pembelajaran yang komprehensif,menerapkan kurikulum yang sesuai untuk berkembangnya proses berfikir natural.

3. Bagi guru hendaknya melakukan kbm dengan pendekatan proses,melakukan penilaian autentik dan memberikan keteladanan yang nyata.

4. Bagi siswa hendaknya dapat memilih dan memilah informasi didunia maya maupun masmedia yang  memberi perkembangan kemampuan  berfikir.

5. Bagi masyarakat dan orangtua hendaknya memberikan contoh yang baik bagi generasi muda dan memberikan ruang untuk berkembangnya kreasi dan berfikir kawula muda.
MENGUKIR PRESTASI 
DENGAN KEPRIBADIAN YANG BERKARAKTER

             Sering kita mendengar disekitar kita,perbincangan diseputar kepribadian dan karakter.Pembicaraan mereka yang dapat kita rekam misalnya,”Wah pendidikan sekarang ini tidak menghasilkan pribadi yang berkarakter!,”Seperti itu ucapan pak Andre yang bekerja sebagai seorang pegawai kantoran.Kalimat lain disampaikan oeh seorang petani yang tinggal cukup jauh dari perkotaan,”gimana tho anak-anak sekarang,sekolahnya tinggi-tinggi tapi kok kelakuannya rendah-rendah,”.Dikalangan pelajar bahkan sering terjadi ucapan-ucapan yang ditujukan pada anak-anak yang tidak sopan,tidak disiplin,norak dll dengan perkataan,”Dasar tidak punya karakter!,”Dan masih banyak lagi percakapan-percakapan lain yang sering kita dengar dimasyarakat terkait dengan topic diatas.
              Gambaran diatas sedikit memberi gambaran pada kita bahwa sebenarnya kepribadian yang berkarakter itu sangat didambakan oleh semua orang.Termasuk kita sebagai seorang pelajar harus menjadikan pribadi kita berkarakter mulia,karena kepribadian semacam ini akan menjadi mercusuar kemajuan masyarakat,bangsa dan Negara.Nah tentu kita menjadi senang karena itu,jika ia ingin berprestasi tentunya harus berkarakter.Mari kita mencoba untuk membuka teori-teori lama tentang kepribadian agar kita dapat menemukan sebenarnya tipe kepribadian yang seperti apa kita ini.
Menurut teori klasik,kepribadian manusia itu dapat dikelompokkan dalam 4 Tipe.
1.Korelis.
   Ciri orang yang berkepribadian korelis adalah suka mandiri,tegas dan semangatnya berapi-api,ia menyukai tantangan.Tipe semacam ini kekurangannya adalah mudah marah.
2.Sanguinis.
    Ciri khusus kepribadian ini adalah menyukai hal-hal yang praktis tidak berbelit-belit,terlihat happy dan ceria selalu.Kejutan merupakan hal yang ia sukai ,kegiatan social adalah hal yang sangat menarik baginya.
3.Phlegmatis
   Ciri kepribadian ini adalah suka bekerjasama,menghindari konflik,tidak suka perubahan yang mendadak.orang dengan kepribadian ini adalah teman yang enak untuk diajak bicara.
4.Melankolis
    Orang dengan kepribadian tipe ini bercirikan,menyukai hal yang detail,perfection,menyimpan kemarahan,suka kegiatan rutine dan suka instruksi yang jelas.
         Sekarang kita dapat mengetahui tipe kepribadian kita,namun kita tidak dapat memilih sebuah tipe kepribadian,karena kepribadian adalah warisan yang cenderung bersifat genetic.Ia sebagai karunia Tuhan yang pantas kita syukuri apapun tipe dan bentuknya sebagaimana bentuk tubuh kita.
Tidak dipungkiri bahwa tipe-tipe tersebut ada sisi positif dan sisi negative,sebagaimana Alloh ilhamkan pada tiap-tiap jiwa itu ruh kebaikan dan ruh keburukan.Lalu dapatkah kita menjadikan diri pribadi sebagai insane yang berkepribadian terbaik atau berkarakter baik? Jawabnya adalah dapat! Karena karakter adalah nilai-nilai luhur yang dapat diajarkan,dan ditumbuhkembangkan dalam kehidupan.Ia bukan turunan dari nenek moyangatau orangtya kita,te tapi budidaya manusia untuk membentuk kepribadian yang mulia(insane khamil).Sebagai misal kejujuran,kedisiplinan,ketekunan,kecerdasan dan lain-lain sifat mulia dapat dibangun dan dikembangkan melalui suatu proses tertentu. Tidak seperti kepribadian yang dapat diwariskan, karakter tak dapat diwariskan.Jadi karakter tidak instan,ada dan wujud begitu saja.Karakter harus dicari dilaksanakan dan dibiasakan sehingga menjadi budaya yang berurat dan berakar pada diri manusia sebagai pribadi dan masyarakat pada umumnya.
          Jadi manakala kita menjadi pelajar yang berkepribadian tertentu,kok menampakkan kebodohanan dikelas,atau tidak mendapatkan prestasi, ini bukan bawaan! Dan bukan takdir! Tetapi kemalasan yang menguasainya.Sebab jika ia mau belajar bersungguh-sungguh maka prestasi tentu dapat diraih,karakter cerdas dapat dicapai. Demikian pula manakala kita menjadi berperangai jorok,tidak sopan dan tidak mengindahkan tatakrama,itu bukan warisan dari ayah ataupun ibu tapi karena kita tidak mau belajar bersopan santun, tidak mau membiasakan tutur kata yang baik.
Setelah kita mengetahui diri kita tentang kepribadian dan karakter,bagaimana kita mengembangkan potensi yang kita miliki agar mencapai prestasi yang memuaskan?
       Ada 10 jurus yang bisa kita lakukan sbb:
1.Berniat sungguh-sungguh untuk berprestasi,sebab niat adalah ruh yang menggerakkan tindakan atau amalan.Kita tahu bahwa amalan yang baik harus didahului dengan niat.Kita dapat belajar pada saat kita melaksanakan puasa ramadhan,karena kita berniat sungguh-sungguh melaksanakan perintah Tuhan ,maka tidak terlalu berat kita menjalananinya.Lain halnya ketika kita terlambat makan,karena tidak ada niat maka menahan lapar dirasakan beban yang berat.Begitu pula ketika kita berniat menjadi siswa yang berprestasi maka semua potensi akan disiapkan untuk mendukung tercapainya suatu cita-cita.
2.Tumbuhkan motivasi dengan membaca biografi orang-orang sukses.Dari sini kita akan terpacu untuk berbuat seperti tokoh yang kit abaca.Dalam beberapa wawancara dengan seorang yang sukses,diketahui bahwa mereka terpacu dari pola pikir,tingkah laku dan perbuatan tokoh yang diidolakan yang tertulis dalam sebuah biografi.
3.Percayalah dengan kemampuan diri kamu sendiri.Tuhan menciptakan manusia adalah sama,hanya yang bersungguh-sungguh yang berhasil,Man jadda wa jadda.Kesamaan kita dengan lainya bisa dilihat dari:makanannya,volume otaknya,anggota geraknya,bentuk fisiknya dll.Tapi mengapa kemudian dikatakan ada yang pandai dan ada yang bodoh?Tanya pada orang yang pandai berapa kali ia membaca,berapa jam belajar dalam sehari,berapa kali ia berlatih .Bandingkan dengan si bodoh,nah kita akan mengerti bahwa sesungguhnya peran yang besar dalam keberhasilan belajar adalah usaha kita sendiri!Sebab itu kita meski yakin manakala kita banyak belajar tentu akan pandai,manakala kita banyak membaca tentu akan mengerti,manakala banyak berlatih tentu akan kuat ingatannya.
4.Berdisiplinlah menggunakan waktu,tanamkan bahwa waktu itu adalah ilmu,jika kita tidak memanfaatkan waktu maka waktu yang akan memanfaatkan kita.Hitunglah dalam keseharianmu,berapa jam kita gunakan untuk belajar,berapa jam kita pakai untuk tidur,berapa jam kita pergunakan untuk bermain?Mana porsi yang terbanyak?Orang pandai tentu menggunakan sebagian besar waktunya untuk belajar,sedang orang bodoh menghabiskan waktunya untuk bermain .
5.Tentukan target yang jelas ,bidang studi apa yang akan kita jadikan pionir,berapa nilai yang harus kita peroleh dlsb.Mulailah mentarget dari pelajaran yang engkau anggap ringan,misalkan engkau target mendapat nilai 8,setelah tercapai baru pelajaran yang lainnya.
6.Berlatih konsentrasi dalam belajar baik di kelas maupun ketika belajar sendiri.Semakin baik dan semakin lama kita mampu berkonsentrasi semakin kuat dan cepat kita menguasai materi.Cobalah berlatih mengukur dan menambah konsentrasi belajarmu dengan cara membaca sebuah cerita,fokuskan perhatianmu.Catat dari awal membaca (awal konsentrasi)sampai  fikiranmu tidak tertuju lagi pada cerita yang kamu baca(akhir konsentrasi),berapa menit.Kemudian coba lagi seperti itu dan seterusnya hingga kamu mendapatkan konsentrasi terlama dan terbagus.
7.Berani dan tidak malu bertanya karena guru akan membimbing mana yang kita tidak tahu.Kesalahan besar yang sering terjadi pada pelajar dalam belajar di sekolah adalah tidak berani bertanya.Karena tidak bertanya maka guru tidak mengerti bagian materi mana yang harus diulang,sehingga guru hanya mendapatkan data yang semu alias tidak nyata,karenanya ketika guru melanjutkan pembelajaran,terjadi ketidakpahaman yang menumpuk pada diri siswa.Kita jadi rugi sendiri jika malu bertanya.
8.Ikuti organisasi yang ada di sekolahmu karena dengan berorganisasi kita akan terlatih untuk mengemukakan pendapat dan berwawasan luas.Sering berinteraksi dengan orang-orang yang pintar akan membuat kita jadi pintar.
9.Amati dimana kelebihanmu,maka ikuti pengembangan diri sesuai dengan bakatmu,sebab dengan bakatmu mungkin menjadikan kamu siswa yang berprestasi.Perlu diketahui bahwa prestasi tidak hanya di bidang akademik saja tetapi dapat juga non akademik,maka mana bakat yang kamu senangi kembangkanlah.
10.Sholat dan doa adalah kunci dari sekian banyak usaha,yang berarti memasrahkan usha yang telah kita jalani untuk mendapatkan karunia dari illahi.Bagi Alloh sesuatu yang tidak mungkin dalam pandangan manusia,menbjadi mungkin.Dan manakla Dia menginginkan sesuatu cukuplah berfirman Kun fayakun (jadilah maka terus jadi).
Selamat berprestasi dengan kepribadian yang berkarakter.

Thursday, 17 January 2013

PROFESI KOMPLEK SEORANG GURU DAN BUDAYA BERFIKIR INSTAN

      Menjadi seorang guru memang tidaklah mudah.Berbeda dengan profesi lain seperti dokter,pedagang bangker dll.Ini disebabkan karena objek yang digarap adalah makhluk hidup yang penuh dengan cipta,karsa dan rasa.Jika kita membandingkan dengan dokter,maka seorang dokter bekerja untuk menyembuhkan pasien dengan metode ilmiah yang dapat dipastikan "pasien sembuh" bila diterapkan sesuai prosedur dan pemberian obat sesuai dosis.Tetapi guru tidak memiliki metode yang seratus persen dapat membuat anak didiknya menjadi pandai,berakhlak mulia,berkarakter,bahkan kemdiknas pun sudah mengganti kurikulum dengan kurikulum yang lain tetapi hasilnya pun tidak bisa dipastikan menjamin keberhasilan pendidikan seratus persen.
      Kita mengenal seabrek metode dan pendekatan yang bisa diterapkan untuk mengantarkan anak didik menuju keberhasilan belajar,tetapi kita juga menyadari metode,pendekatan dan strategi macam apapun yang diterapkan tidak mampu menjamin keberhasilan,hal ini terkait kompleknya faktor yang mempengaruhi pelaksanaan kbm disekolah maupun proses belajar dimasyarakat dan keluarga. Inilah rumitnya mendidik diera sekarang ini.
      Ketika seorang guru mengajar akhlak mulia di sekolah,maka di masyarakat atau keluarga mungkin peserta didiknya melihat kenyataan yang berbeda,padahal waktu disekolah sangatlah sedikit,wal hasil pelajaran yang diterima disekolah tentu tidak dapat diterapkan karena kondisi yang tidak memungkinkan.Segudang permasalahan ditemukan seorang guru ketika mengajar dikelas.
Sebagai contoh kecil ditemukan anak didik yang sebenarnya tekun,tetapi nilainya kurang baik,ada lagi anak yang tidak tekun tetapi nilainya baik,ada lagi anak yang suka bolos sekolah,ada lagi anak yang sering membuat ulah dll fenomena dalam mendidik.Dalam percakapan keseharian mungkin kita mendengar kasus anak bisa lebih buruk dari contoh diatas.Sebagai misal anak didik yang tidak mau mengerjakan latihan soal,anak malas berfikir ,diterangkan tidak memperhatikan ,disuruh belajar tidak mau tetapi anehnya ia ingin berhasil dan nilainya bagus.(fenomena yang aneh diluar nalar sehat).Mungkin ini yang disebut budaya instan telah merasuki peserta didik.
      Jika betul budaya ini telah merasuki para remaja maka berarti kita hanya siap untuk menjadi konsumen,kita hanya siap untuk dijajah,kita siap untuk jadi jongos dinegeri sendiri,kita siap untuk menjadi permainan orang lainn(bangsa lain) pada akhirnya kita hanya menjadi penonton saja tanpa mau menjadi pemain.Dalam suasana seperti ini tentu kreatifitas tak akan muncul,kemajuan tak akan dicapai,Kesuksesan hidup tak akan teraih.
      Guru sebagai elemen kecil dalam dunia pendidikan harus menanggulangi bahaya yang sebesar itu,ini tidak mudah.inilah rumitnya menjadi guru.Sering alamat alamat tidak baik tentang perilaku dan akhlak ditujukan pada ketidak profesionalisme guru.Padahal kompetensi profesi dan paedagogik sudah dilakukan dengan baik dan itu bisa dilihat buktinya disekolah.Akan tetapi ketika dirumah maka perilaku pesdik tentu tidak dapat dikontrol oleh seorang guru.Yang kelihatan menyolok pengaruh dunia luar pendidikan terhadap cara berfikir anak adalah keengganan dan kemalasan anak untuk melakukan proses berfikir menemukan masalah,yang biasa kita sebut budaya berfikir instan.
       Budaya berfikir instan itu bisa disebabkan oleh beberapa hal:
1.Pola mengajar guru pada tahap-tahap awal anak mengenal bvelajar(pendidikan usia dini) yang tidak menggunakan pendekatan proses.
2.Penyajian soal-soal tes yang hanya menggunakan tes model pilihan ganda,baik di UH,UTS,UAS maupun UN.Penyajian soal model ini akan memicu guru maupun pesdik hanya melakukan kegiatan bagaiman menjawab yang benar dengan cepat dan tepat.maka tak asing jika di lembaga bimbingan selalu ditekankan bagaimana cara menjawab soal dengan cepat dan tepat tanpa melalui proses berfikir yang benar dan metode yang benar.
3.Kepribadian guru yang hanya suka memberi nilai di atas kertas,tidak mau peduli terhadap proses anak dalam belajar,artinya tidak menggunakan penilaian yang autentik.
4.Kebijakan pemerintah yang kurang memberi ruang untuk terlaksananya proses berfikir yang berkembang,misalnya tidak adanya alokasi waktu untuk jam-jam praktik sehingga anak hanya dijejali teori tanpa diberi kesempatan membuktikan teori tersebut seperti metodenya para penemu.
5.Pengaruh peralatan multimedia yang menyajikan banyak kemudahan ,sehingga enggan untuk berfikir menemukan.
6.Pengaruh kehidupan sosial masyarakat dan keluarga yang konsumtif.