Wednesday, 30 January 2013



LINK DAPODIK


CARA MENCARI DATA POKOK KEPENDIDIKAN


Pemerintah khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terus berupaya untuk meningkatkan keakuratan pendataan pendidikan nasional. Seringnya terjadi kesimpangsiuran dan ketidakvalidan data menyebabkan terhambatnya kegiatan di sektor pendidikan karena belum ditunjang dengan teknologi dan informasi yang memadai. Sebagai upaya percepatan pendataan Data Pendidikan, pemerintah pada tahun ini memperkenalkan pendataan secara online, melalui software (aplikasi) yang tersedia di website infopendataan.dikdas.kemdikbud.go.id. Sekolah yang sudah memiliki aplikasi pendataan selanjutnya melakukan entry data berupa data sekolah, data pendidik dan tenaga kependidikan, dan data siswa selengkap-lengkapnya. Setelah terisi lengkap kemudian dikirim secara online.

Untuk mengetahui data sekolah sudah terkirim atau sudah diterima oleh server caranya yaitu :
-          Kemudian pada menu Beranda, lihat table report progress pendataan pendidikan dasar 2012
-       Cari propinsi yang sesuai, lalu klik tanda plus (+) pada samping kiri nama propinsi, maka akan terbuka daftar nama kabupaten, kemudian klik lagi tanda plus pada kabupaten untuk melihat daftar kecamatan, lalu klik lagi tanda plus pada nama kecamatan maka akan terlihat nama-nama sekolah yang ada pada kecamatan tersebut, lalu cari nama sekolah kita, apabila sudah diterima maka aka nada keterangan tanggal diterima dan statusnya, jika tertulis berhasil diproses berarti sudah diterima server, jika masih status kosong berarti sekolah belum mengirim data atau gagal dalam pengiriman ke server.

Selanjutnya jika data sudah berhasil diproses, kita dapat mengakses data sekolah secara online dengan cara :
-          Buka http://pendataan.dikdas.kemdikbud.go.id

Tuesday, 22 January 2013

KODE ETI K GURU


(1) Hubungan Guru dengan Peserta Didik:

a. Guru berprilaku secara profesional dalam melaksanakan tugas mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran.

b. Guru membimbing peserta didik untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan hak-hak dan kewajibannya sebagai individu, warga sekolah, dan anggota masyarakat.

c. Guru mengakui bahwa setiap peserta didik memiliki karakteristik secara individual dan masing-masingnya berhak atas layanan pembelajaran.

d. Guru menghimpun informasi tentang peserta didik dan menggunakannya untuk kepentingan proses kependidikan.

e. Guru secara perseorangan atau bersama-sama secara terus-menerus berusaha menciptakan, memelihara, dan mengembangkan suasana sekolah yang menyenangkan sebagailingkungan belajar yang efektif dan efisien bagi peserta didik.

f. Guru menjalin hubungan dengan peserta didik yang dilandasi rasa kasih sayang dan menghindarkan diridari tindak kekerasan fisik yang di luar batas kaidah pendidikan.

g. Guru berusaha secara manusiawi untuk mencegah setiap gangguan yang dapat mempengaruhi perkembangan negatif bagi peserta didik.

h. Guru secara langsung mencurahkan usaha-usaha profesionalnya untuk membantu peserta didik dalam mengembangkan keseluruhan kepribadiannya, termasuk kemampuannya untuk berkarya.

i. Guru menjunjung tinggi harga diri, integritas, dan tidak sekali-kali merendahkan martabat peserta didiknya.

j. Guru bertindak dan memandang semua tindakan peserta didiknya secara adil.

k. Guru berperilaku taat asas kepada hukum dan menjunjung tinggi kebutuhan dan hak-hak peserta didiknya.

l. Guru terpanggil hati nurani dan moralnya untuk secara tekun dan penuh perhatian bagi pertumbuhan dan perkembangan peserta didiknya.

m. Guru membuat usaha-usaha yang rasional untuk melindungi peserta didiknya dari kondisi-kondisi yang menghambat proses belajar, menimbulkan gangguan kesehatan, dan keamanan.

n. Guru tidak membuka rahasia pribadi peserta didiknya untuk alasan-alasan yang tidak ada kaitannya dengan kepentingan pendidikan, hukum, kesehatan, dan kemanusiaan.

o. Guru tidak menggunakan hubungan dan tindakan profesionalnya kepada peserta didik dengan cara-cara yang melanggar norma sosial, kebudayaan, moral, dan agama.

p. Guru tidak menggunakan hubungan dan tindakan profesional dengan peserta didiknya untuk memperoleh keuntungan-keuntungan pribadi.


(2) Hubungan Guru dengan Orangtua/Wali Murid :
1. Guru berusaha membina hubungankerjasama yang efektif danefisien dengan orangtua/wali siswa dalammelaksanakan proses pendidikan.

2. Guru memberikan informasi kepada orangtua/wali secara jujur dan objektif mengenai perkembangan peserta didik.

3. Guru merahasiakan informasi setiap peserta didik kepada orang lain yang bukan orangtua/walinya.

4. Guru memotivasi orangtua/wali siswa untuk beradaptasi dan berpartisipasi dalam memajukan danmeningkatkan kualitas pendidikan.

5. Guru bekomunikasi secara baik dengan orangtua/wali siswa mengenai kondisi dan kemajuan peserta didik dan proses kependidikan pada umumnya.

6. Guru menjunjung tinggi hak orangtua/wali siswa untuk berkonsultasi denganya berkaitan dengan kesejahteraan, kemajuan, dan cita-cita anak atau anak-anak akan pendidikan.

7. Guru tidak melakukan hubungan dan tindakan profesional dengan orangtua/wali siswa untuk memperoleh keuntungan-keuntungan pribadi.


(3) Hubungan Guru dengan Masyarakat :

1. Guru menjalin komunikasi dan kerjasama yang harmonis, efektif, dan efisien dengan masyarakat untuk memajukan dan mengembangkan pendidikan.

2. Guru mengakomodasikan aspirasi masyarakat dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan dan pembelajaran.

3. Guru peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat.

4. Guru bekerjasama secara arif dengan masyarakat untuk meningkatkan prestise dan martabatprofesinya.

5. Guru melakukan semua usaha untuk secara bersama-sama dengan masyarakat berperan aktif dalam pendidikan dan meningkatkan kesejahteraan peserta didiknya.

6. Guru mememberikan pandangan profesional, menjunjung tinggi nilai-nilai agama, hukum, moral, dan kemanusiaan dalam berhubungan dengan masyarakat.

7. Guru tidak membocorkan rahasia sejawat dan peserta didiknya kepadamasyarakat.

8. Guru tidak menampilkan diri secaraekslusif dalam kehidupan bermasyarakat.


(4) Hubungan Guru dengan Sekolah dan Rekan Sejawat:

a. Guru memelihara dan meningkatkan kinerja, prestasi, dan reputasi sekolah.

b. Guru memotivasi diri dan rekan sejawat secara aktif dan kreatif dalam melaksanakan proses pendidikan.

c. Guru menciptakan suasana sekolah yang kondusif.

d. Guru menciptakan suasana kekeluargaan di didalam dan luar sekolah.

e. Guru menghormati rekan sejawat.

f. Guru saling membimbing antarsesama rekan sejawat.

g. Guru menjunjung tinggi martabat profesionalisme dan hubungan kesejawatan dengan standar dan kearifan profesional.

h. Guru dengan berbagai cara harus membantu rekan-rekan juniornya untuk tumbuh secara profesional danmemilih jenis pelatihan yang relevan dengan tuntutan profesionalitasnya.

i. Guru menerima otoritas kolega seniornya untuk mengekspresikan pendapat-pendapat profesional berkaitan dengan tugas-tugas pendidikan dan pembelajaran.

j. Guru membasiskan-diri pada nilai-nilai agama, moral, dan kemanusiaandalam setiap tindakan profesional dengan sejawat.

k. Guru memiliki beban moral untuk bersama-sama dengan sejawat meningkatkan keefektifan pribadi sebagai guru dalam menjalankan tugas-tugas profesional pendidikan dan pembelajaran.

l. Guru mengoreksi tindakan-tindakan sejawat yang menyimpang dari kaidah-kaidah agama, moral, kemanusiaan, dan martabat profesionalnya.

m. Guru tidak mengeluarkan pernyataan-keliru berkaitan dengan kualifikasi dan kompetensi sejawat atau calon sejawat.

n. Guru tidak melakukan tindakan dan mengeluarkan pendapat yang akan merendahkan marabat pribadi dan profesional sejawatnya.

o. Guru tidak mengoreksi tindakan-tindakan profesional sejawatnya atas dasar pendapat siswa atau masyarakat yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

p. Guru tidak membuka rahasia pribadi sejawat kecuali untuk pertimbangan-pertimbangan yang dapat dilegalkan secara hukum.

q. Guru tidak menciptakan kondisi atau bertindak yang langsung atau tidak langsung akan memunculkan konflik dengan sejawat.


(5) Hubungan Guru dengan Profesi :
a. Guru menjunjung tinggi jabatan guru sebagai sebuah profesi.

b. Guru berusaha mengembangkan dan memajukan disiplin ilmu pendidikan dan mata pelajaran yang diajarkan.

c. Guru terus menerus meningkatkan kompetensinya.

d. Guru menunjung tinggi tindakan dan pertimbangan pribadi dalam menjalankan tugas-tugas profesionaldan bertanggungjawabatas konsekuensinya.

e. Guru menerima tugas-tugas sebagai suatu bentuk tanggungjawab, inisiatif individual, dan integritas dalam tindakan-tindakan profesional lainnya.

f. Guru tidak melakukan tindakan danmengeluarkan pendapat yang akan merendahkan martabat profesionalnya.

g. Guru tidak menerima janji, pemberian, dan pujian yang dapat mempengaruhi keputusan atau tindakan-tindakan profesionalnya.

h. Guru tidak mengeluarkan pendapatdengan maksud menghindari tugas-tugas dan tanggung jawab yang muncul akibat kebijakan baru di bidang pendidikan dan pembelajaran.


(6) Hubungan Guru dengan Organisasi Profesinya :

1. Guru menjadi anggota organisasi profesi guru dan berperan serta secara aktif dalam melaksanakan program-program organisasi bagi kepentingan kependidikan.

2. Guru memantapkan dan memajukan organisasi profesi guruyang memberikan manfaat bagi kepentingan kependidikan.

3. Guru aktif mengembangkan organisasi profesi guru agar menjadi pusat informasi dan komunikasi pendidikan untuk kepentingan guru dan masyarakat.

4. Guru menunjung tinggi tindakan dan pertimbangan pribadi dalam menjalankan tugas-tugas organisasi profesi dan bertanggungjawab atas konsekuensinya.

5. Guru menerima tugas-tugas organisasi profesi sebagai suatu bentuk tanggungjawab, inisiatif individual, dan integritas dalam tindakan-tindakan profesional lainnya.

6. Guru tidak melakukan tindakan danmengeluarkan pendapat yang dapat merendahkan martabat dan eksistensi organisasi profesinya.

7. Guru tidak mengeluarkan pendapatdan bersaksi palsu untuk memperoleh keuntungan pribadi dari organisasi profesinya.

8. Guru tidak menyatakan keluar dari keanggotaan sebagai organisasi profesi tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.


(7) Hubungan Guru dengan Pemerintah
:

1. Guru memiliki komitmen kuat untuk melaksanakan program pembangunan bidang pendidikan sebagaimana ditetapkan dalam UUD 1945, UU tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang tentang Guru dan Dosen, dan ketentuan perundang-undangan lainnya.

2. Guru membantu program pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan yang berbudaya.

3. Guru berusaha menciptakan, memelihara dan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan dalamkehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila danUUD 1945.

4. Guru tidak menghindari kewajibanyang dibebankan oleh pemerintah atau satuan pendidikan untuk kemajuan pendidikan dan pembelajaran.

5. Guru tidak melakukan tindakan pribadi atau kedinasan yang berakibat pada kerugian negara.
BERWIBAWA DI DEPAN KELAS

      Salah satu kunci keberhasilan guru dalam kegiatan belajar dan mengajar dikelas adalah kewibawaan yang dipancarkan lewat karisma yang dimilikinya.Wibawa seorang guru menentukan terciptanya suasana kelas yang kondusif untuk pelaksanaan pembelajaran yang optimal.Seorang guru yang berwibawa akan menjadikan siswa patuh terhadap guru tanpa harus memarahinya,sebaliknya guru yang tidak berwibawa dapat  mengakibatkan suasana kelas yang tidak kondusif,gaduh,dan mungkin terjadi saling ganggu diantara siswa.Tentu saja suasana yang seperti ini tidak dapat dipakai untukkegiatan pembelajaran yang baik.
      Diera zaman yang sarat dengan arus informasi dan tehnologi sekarang ini,mengharuskan guru untuk memberi porsi waktu yang lebih besar pada pengelolaan kelas dibandingkan penyajian materi.Sebab kebanyakan siswa mungkin telah banyak mengakses materi lewat berbagai media,yang terkadang membuat siswa menjadi tidak perhatian pada guru dikarenakan merasa sudah tahu.Berbeda dengan karakter siswa pada zaman dulu yang masih sangat patuh pada guru,sehingga guru mudah menciptakan suasana yang kondusif.Meskipun zaman telah berubah dengan segala konsekwensinya,wibawa seorang guru tetap menjadikan kunci bagi terselenggaranya pendidikan yang efektif dan kondusif.Dengan kewibawaan mungkin akan membuat siswa melakukan kegiatan dengan kesadaran tanpa harus kita awasi dan kita perintah.
      Berikut beberapa anjuran agar guru menjadi berwibawa:
1.Jangan memaksakan diri pada siswa untuk menghormati dirinya dengan cara-cara yang kasar,menekan psikisnya,memarahi dan lain -lain tindakan yang tidak nyaman.
2.Jangan mengistimewakan salah satu siswa,karena dengan perbuatan semacam ini siswa lain menjadi merasa tidak diperhatikan.Keadilan guru harus diutamakan.
3.Jangan sekali-kali melecehkan siswa dengan menyerang kehormatannya,bagaimanapun siswa juga memiliki kehormatan yang perlu diperhatikan.
4.Sering memotivasi murid agar berhasil.
5.Berpakainlah yang rapi
6.Kuasailah materi yang akan diajarkan dengan sebaik-baiknya disertai daya dukung ilmu lain bila diperlukan
7.Disiplin dalam menggunakan waktu yang disediakan
8.Rajin dan tekunlah dalam beribadah
9.Terus mengembangkan kemampuan keilmuan mendidik

Monday, 21 January 2013

Budaya berfikir instan dan cara menanggulanginya


BUDAYA BERFIKIR INSTAN DAN CARA MENANGGULANINYA


      Seseorang yang berbudaya instan selalu menginginkan segala sesuatu berjalan dengan cepat dan praktis tanpa proses,tanpa bersusah-susah, segera menghasilkan sesuatu yang diinginkan .Hal semacam ini sudah menggejala dalam kehidupan masyarakat khususnya generasi muda dewasa ini. Begitu juga dengan para pelajar kita terdeteksi selalu ingin mencari  jalan pintas untuk berprestasi.Mereka sudah sangat susah untuk diajak berfikir dengan proses natural .Bahkan jalan pintas/instan dalam berfikir sudah menjadi trend bagi kalangan muda.Sebagai contoh ketika murid akan ujian,mereka tidak belajar malah berkeliaran mencari bocoran soal.Murid hanya senang mengerjakan soal bentuk pilihan ganda dan enggan mengerjakan soal essay.Murid tidak konsen jika diterangkan proses terjadinya sesuatu atau langkah mengerjakan soal dan hanya mengerti yang simpel-simpel saja.dll.
      Orang orang yang membiasakan diri dengan jalan pintas/instan akhirnya suka berpikir singkat tanpa mau mengikuti proses, tanpa mau bersusah payah, yang penting tujuan tercapai. Padahal sebuah keberhasilan besar memerlukan proses panjang sebagai sebuah perjalanan penuh perjuangan. Sebuah proses juga akan menjadikan kematangan kepada seseorang dalam berfikir, bersikap dan mengambil keputusan penting dalam hidup dan karier sesorang.
      Cara berfikir instan membuat kita melupakan proses natural dari sesuatu. Seseorang ingin pandai tetapi tidak mau belajar dengan tekun dan sabar, Seseorang menjadi kaya tetapi tidak mau bekerja giat  tekun.Jika proses natural itu ditinggalkan akibatnya akan berbahaya dan berdampak buruk karena akan mendorong seseorang melakukan tindakan yang tidak terpuji.

Penyebab berfikir instan

1. Pengaruh perkembangan teknologi.
Teknologi telah membantu mempermudah dan mempercepat manusia dalam melakukan pekerjaan. Disadari atau tidak penggunaan teknologi telah mempengaruhi cara dan pola pikir manusia dalam menjalankan perannya.

2. Pengaruh Media. Media telah menyajikan begitu banyak informasi termasuk iklan yang seolah2 segala yang baik dan sukses begitu mudah untuk dicapai, semua langsung bisa-langsung ada, tanpa proses. Melalui internet setiap orang bisa mendapatkan informasi apa saja tanpa batas dengan mudahnya. Segala informasi yang tersaji dan mudah diakses mendorong orang untuk berpikir praktis dan mencari mudahnya.

3.Pendidikan yang salah mengarah pada berfikir instan.Proses belajar mengajar yang ideal kurang begitu diperhatikan yang penting anak dapat mengerjakan dan menjawab soal2 dengan benar, dan lulus 100%. Orientasi pembelajaran lebih diarahkan agar anak mendapat nilai "angka" yang baik. Sedangkan nilai "proses" semakin tidak tersentuh. Karena berorientasi pada nilai angka, maka pembelajaran diarahkan sekedar sesuai indikator dan kisi-kisi, biar mudah, cepat dan praktis, ini berarti mengajari anak berfikir instan.
4. Situasi zaman yang memaksa bertindak secara instan.

Akibat buruk berfikir instan

1. Orang menjadi malas mengikuti proses yang semestinya.
Proses yang panjang dan berjenjang dianggap sesuatu yang menyebalkan dan lambat. Orang akan lebih terfokus pada hasil akhir, tidak mau mengikuti proses yang mesti dilalui.
Orang tidak lagi mau mengantri untuk suatu urusan. Mulai dari mengurus bikin KTP, beli tiket, bayar pajak dan sebagainya. Tidak usah antri, cukup bayar sejumlah uang kepada oknum yang ngurus "hasilnya beres".

2. Orang bisa saja menghalalkan cara demi suatu tujuan.
Tidak peduli bagaimana cara yang mesti ditempuh, yang penting "tujuan" tercapai. Ingin kaya dengan penghasilan pas-pasan, lalu putar otak bagaimana caranya agar lekas kaya. Sekalipun harus korupsi, mencuri, menipu dan sebagainya. Norma-norma agama bisa ditinggalkannya, karena demi satu tujuan "kaya".

3. Menjadikan generasi santai dan manja.
Terbiasa dengan yang serba mudah dan cepat membuat orang menjadi malas berusaha, malas kerja keras dan tumbuh menjadi generasi santai dan manja.

4. Mudah frustasi karena hanya mengerti satu jalan,padahal dengan berfikir proses dapat ditemukan berbagai jalan penyelesaian terhadap permasalahan

5. Tidak dapat menghargai jerih payah orang lain karena menganggap mereka juga mendapatkan dengan instan.

6. Mudah dipermainkan situasi dan mudah dijadikan objek pasar/produk.

7. Sukar diajak maju.

.Cara menanggulanginya
1.Bagi pemerintah harus menciptakan situasi kehidupan yang harmonis bagi warga negaranya,seperti dalam memetapkan peraturan-peraturan harus mengarah pada berfikir secara proses.

2. Dalam dunia pendidikan harus dijamin pelaksanaan pendidikan yang mengarah pada pendekatan proses,tidak mementingkan nilai semata,kelulusan tidak hanya dinilai dalam satu sisi saja melainkan diarahkan pada pembelajaran yang komprehensif,menerapkan kurikulum yang sesuai untuk berkembangnya proses berfikir natural.

3. Bagi guru hendaknya melakukan kbm dengan pendekatan proses,melakukan penilaian autentik dan memberikan keteladanan yang nyata.

4. Bagi siswa hendaknya dapat memilih dan memilah informasi didunia maya maupun masmedia yang  memberi perkembangan kemampuan  berfikir.

5. Bagi masyarakat dan orangtua hendaknya memberikan contoh yang baik bagi generasi muda dan memberikan ruang untuk berkembangnya kreasi dan berfikir kawula muda.
MENGUKIR PRESTASI 
DENGAN KEPRIBADIAN YANG BERKARAKTER

             Sering kita mendengar disekitar kita,perbincangan diseputar kepribadian dan karakter.Pembicaraan mereka yang dapat kita rekam misalnya,”Wah pendidikan sekarang ini tidak menghasilkan pribadi yang berkarakter!,”Seperti itu ucapan pak Andre yang bekerja sebagai seorang pegawai kantoran.Kalimat lain disampaikan oeh seorang petani yang tinggal cukup jauh dari perkotaan,”gimana tho anak-anak sekarang,sekolahnya tinggi-tinggi tapi kok kelakuannya rendah-rendah,”.Dikalangan pelajar bahkan sering terjadi ucapan-ucapan yang ditujukan pada anak-anak yang tidak sopan,tidak disiplin,norak dll dengan perkataan,”Dasar tidak punya karakter!,”Dan masih banyak lagi percakapan-percakapan lain yang sering kita dengar dimasyarakat terkait dengan topic diatas.
              Gambaran diatas sedikit memberi gambaran pada kita bahwa sebenarnya kepribadian yang berkarakter itu sangat didambakan oleh semua orang.Termasuk kita sebagai seorang pelajar harus menjadikan pribadi kita berkarakter mulia,karena kepribadian semacam ini akan menjadi mercusuar kemajuan masyarakat,bangsa dan Negara.Nah tentu kita menjadi senang karena itu,jika ia ingin berprestasi tentunya harus berkarakter.Mari kita mencoba untuk membuka teori-teori lama tentang kepribadian agar kita dapat menemukan sebenarnya tipe kepribadian yang seperti apa kita ini.
Menurut teori klasik,kepribadian manusia itu dapat dikelompokkan dalam 4 Tipe.
1.Korelis.
   Ciri orang yang berkepribadian korelis adalah suka mandiri,tegas dan semangatnya berapi-api,ia menyukai tantangan.Tipe semacam ini kekurangannya adalah mudah marah.
2.Sanguinis.
    Ciri khusus kepribadian ini adalah menyukai hal-hal yang praktis tidak berbelit-belit,terlihat happy dan ceria selalu.Kejutan merupakan hal yang ia sukai ,kegiatan social adalah hal yang sangat menarik baginya.
3.Phlegmatis
   Ciri kepribadian ini adalah suka bekerjasama,menghindari konflik,tidak suka perubahan yang mendadak.orang dengan kepribadian ini adalah teman yang enak untuk diajak bicara.
4.Melankolis
    Orang dengan kepribadian tipe ini bercirikan,menyukai hal yang detail,perfection,menyimpan kemarahan,suka kegiatan rutine dan suka instruksi yang jelas.
         Sekarang kita dapat mengetahui tipe kepribadian kita,namun kita tidak dapat memilih sebuah tipe kepribadian,karena kepribadian adalah warisan yang cenderung bersifat genetic.Ia sebagai karunia Tuhan yang pantas kita syukuri apapun tipe dan bentuknya sebagaimana bentuk tubuh kita.
Tidak dipungkiri bahwa tipe-tipe tersebut ada sisi positif dan sisi negative,sebagaimana Alloh ilhamkan pada tiap-tiap jiwa itu ruh kebaikan dan ruh keburukan.Lalu dapatkah kita menjadikan diri pribadi sebagai insane yang berkepribadian terbaik atau berkarakter baik? Jawabnya adalah dapat! Karena karakter adalah nilai-nilai luhur yang dapat diajarkan,dan ditumbuhkembangkan dalam kehidupan.Ia bukan turunan dari nenek moyangatau orangtya kita,te tapi budidaya manusia untuk membentuk kepribadian yang mulia(insane khamil).Sebagai misal kejujuran,kedisiplinan,ketekunan,kecerdasan dan lain-lain sifat mulia dapat dibangun dan dikembangkan melalui suatu proses tertentu. Tidak seperti kepribadian yang dapat diwariskan, karakter tak dapat diwariskan.Jadi karakter tidak instan,ada dan wujud begitu saja.Karakter harus dicari dilaksanakan dan dibiasakan sehingga menjadi budaya yang berurat dan berakar pada diri manusia sebagai pribadi dan masyarakat pada umumnya.
          Jadi manakala kita menjadi pelajar yang berkepribadian tertentu,kok menampakkan kebodohanan dikelas,atau tidak mendapatkan prestasi, ini bukan bawaan! Dan bukan takdir! Tetapi kemalasan yang menguasainya.Sebab jika ia mau belajar bersungguh-sungguh maka prestasi tentu dapat diraih,karakter cerdas dapat dicapai. Demikian pula manakala kita menjadi berperangai jorok,tidak sopan dan tidak mengindahkan tatakrama,itu bukan warisan dari ayah ataupun ibu tapi karena kita tidak mau belajar bersopan santun, tidak mau membiasakan tutur kata yang baik.
Setelah kita mengetahui diri kita tentang kepribadian dan karakter,bagaimana kita mengembangkan potensi yang kita miliki agar mencapai prestasi yang memuaskan?
       Ada 10 jurus yang bisa kita lakukan sbb:
1.Berniat sungguh-sungguh untuk berprestasi,sebab niat adalah ruh yang menggerakkan tindakan atau amalan.Kita tahu bahwa amalan yang baik harus didahului dengan niat.Kita dapat belajar pada saat kita melaksanakan puasa ramadhan,karena kita berniat sungguh-sungguh melaksanakan perintah Tuhan ,maka tidak terlalu berat kita menjalananinya.Lain halnya ketika kita terlambat makan,karena tidak ada niat maka menahan lapar dirasakan beban yang berat.Begitu pula ketika kita berniat menjadi siswa yang berprestasi maka semua potensi akan disiapkan untuk mendukung tercapainya suatu cita-cita.
2.Tumbuhkan motivasi dengan membaca biografi orang-orang sukses.Dari sini kita akan terpacu untuk berbuat seperti tokoh yang kit abaca.Dalam beberapa wawancara dengan seorang yang sukses,diketahui bahwa mereka terpacu dari pola pikir,tingkah laku dan perbuatan tokoh yang diidolakan yang tertulis dalam sebuah biografi.
3.Percayalah dengan kemampuan diri kamu sendiri.Tuhan menciptakan manusia adalah sama,hanya yang bersungguh-sungguh yang berhasil,Man jadda wa jadda.Kesamaan kita dengan lainya bisa dilihat dari:makanannya,volume otaknya,anggota geraknya,bentuk fisiknya dll.Tapi mengapa kemudian dikatakan ada yang pandai dan ada yang bodoh?Tanya pada orang yang pandai berapa kali ia membaca,berapa jam belajar dalam sehari,berapa kali ia berlatih .Bandingkan dengan si bodoh,nah kita akan mengerti bahwa sesungguhnya peran yang besar dalam keberhasilan belajar adalah usaha kita sendiri!Sebab itu kita meski yakin manakala kita banyak belajar tentu akan pandai,manakala kita banyak membaca tentu akan mengerti,manakala banyak berlatih tentu akan kuat ingatannya.
4.Berdisiplinlah menggunakan waktu,tanamkan bahwa waktu itu adalah ilmu,jika kita tidak memanfaatkan waktu maka waktu yang akan memanfaatkan kita.Hitunglah dalam keseharianmu,berapa jam kita gunakan untuk belajar,berapa jam kita pakai untuk tidur,berapa jam kita pergunakan untuk bermain?Mana porsi yang terbanyak?Orang pandai tentu menggunakan sebagian besar waktunya untuk belajar,sedang orang bodoh menghabiskan waktunya untuk bermain .
5.Tentukan target yang jelas ,bidang studi apa yang akan kita jadikan pionir,berapa nilai yang harus kita peroleh dlsb.Mulailah mentarget dari pelajaran yang engkau anggap ringan,misalkan engkau target mendapat nilai 8,setelah tercapai baru pelajaran yang lainnya.
6.Berlatih konsentrasi dalam belajar baik di kelas maupun ketika belajar sendiri.Semakin baik dan semakin lama kita mampu berkonsentrasi semakin kuat dan cepat kita menguasai materi.Cobalah berlatih mengukur dan menambah konsentrasi belajarmu dengan cara membaca sebuah cerita,fokuskan perhatianmu.Catat dari awal membaca (awal konsentrasi)sampai  fikiranmu tidak tertuju lagi pada cerita yang kamu baca(akhir konsentrasi),berapa menit.Kemudian coba lagi seperti itu dan seterusnya hingga kamu mendapatkan konsentrasi terlama dan terbagus.
7.Berani dan tidak malu bertanya karena guru akan membimbing mana yang kita tidak tahu.Kesalahan besar yang sering terjadi pada pelajar dalam belajar di sekolah adalah tidak berani bertanya.Karena tidak bertanya maka guru tidak mengerti bagian materi mana yang harus diulang,sehingga guru hanya mendapatkan data yang semu alias tidak nyata,karenanya ketika guru melanjutkan pembelajaran,terjadi ketidakpahaman yang menumpuk pada diri siswa.Kita jadi rugi sendiri jika malu bertanya.
8.Ikuti organisasi yang ada di sekolahmu karena dengan berorganisasi kita akan terlatih untuk mengemukakan pendapat dan berwawasan luas.Sering berinteraksi dengan orang-orang yang pintar akan membuat kita jadi pintar.
9.Amati dimana kelebihanmu,maka ikuti pengembangan diri sesuai dengan bakatmu,sebab dengan bakatmu mungkin menjadikan kamu siswa yang berprestasi.Perlu diketahui bahwa prestasi tidak hanya di bidang akademik saja tetapi dapat juga non akademik,maka mana bakat yang kamu senangi kembangkanlah.
10.Sholat dan doa adalah kunci dari sekian banyak usaha,yang berarti memasrahkan usha yang telah kita jalani untuk mendapatkan karunia dari illahi.Bagi Alloh sesuatu yang tidak mungkin dalam pandangan manusia,menbjadi mungkin.Dan manakla Dia menginginkan sesuatu cukuplah berfirman Kun fayakun (jadilah maka terus jadi).
Selamat berprestasi dengan kepribadian yang berkarakter.

Thursday, 17 January 2013

PROFESI KOMPLEK SEORANG GURU DAN BUDAYA BERFIKIR INSTAN

      Menjadi seorang guru memang tidaklah mudah.Berbeda dengan profesi lain seperti dokter,pedagang bangker dll.Ini disebabkan karena objek yang digarap adalah makhluk hidup yang penuh dengan cipta,karsa dan rasa.Jika kita membandingkan dengan dokter,maka seorang dokter bekerja untuk menyembuhkan pasien dengan metode ilmiah yang dapat dipastikan "pasien sembuh" bila diterapkan sesuai prosedur dan pemberian obat sesuai dosis.Tetapi guru tidak memiliki metode yang seratus persen dapat membuat anak didiknya menjadi pandai,berakhlak mulia,berkarakter,bahkan kemdiknas pun sudah mengganti kurikulum dengan kurikulum yang lain tetapi hasilnya pun tidak bisa dipastikan menjamin keberhasilan pendidikan seratus persen.
      Kita mengenal seabrek metode dan pendekatan yang bisa diterapkan untuk mengantarkan anak didik menuju keberhasilan belajar,tetapi kita juga menyadari metode,pendekatan dan strategi macam apapun yang diterapkan tidak mampu menjamin keberhasilan,hal ini terkait kompleknya faktor yang mempengaruhi pelaksanaan kbm disekolah maupun proses belajar dimasyarakat dan keluarga. Inilah rumitnya mendidik diera sekarang ini.
      Ketika seorang guru mengajar akhlak mulia di sekolah,maka di masyarakat atau keluarga mungkin peserta didiknya melihat kenyataan yang berbeda,padahal waktu disekolah sangatlah sedikit,wal hasil pelajaran yang diterima disekolah tentu tidak dapat diterapkan karena kondisi yang tidak memungkinkan.Segudang permasalahan ditemukan seorang guru ketika mengajar dikelas.
Sebagai contoh kecil ditemukan anak didik yang sebenarnya tekun,tetapi nilainya kurang baik,ada lagi anak yang tidak tekun tetapi nilainya baik,ada lagi anak yang suka bolos sekolah,ada lagi anak yang sering membuat ulah dll fenomena dalam mendidik.Dalam percakapan keseharian mungkin kita mendengar kasus anak bisa lebih buruk dari contoh diatas.Sebagai misal anak didik yang tidak mau mengerjakan latihan soal,anak malas berfikir ,diterangkan tidak memperhatikan ,disuruh belajar tidak mau tetapi anehnya ia ingin berhasil dan nilainya bagus.(fenomena yang aneh diluar nalar sehat).Mungkin ini yang disebut budaya instan telah merasuki peserta didik.
      Jika betul budaya ini telah merasuki para remaja maka berarti kita hanya siap untuk menjadi konsumen,kita hanya siap untuk dijajah,kita siap untuk jadi jongos dinegeri sendiri,kita siap untuk menjadi permainan orang lainn(bangsa lain) pada akhirnya kita hanya menjadi penonton saja tanpa mau menjadi pemain.Dalam suasana seperti ini tentu kreatifitas tak akan muncul,kemajuan tak akan dicapai,Kesuksesan hidup tak akan teraih.
      Guru sebagai elemen kecil dalam dunia pendidikan harus menanggulangi bahaya yang sebesar itu,ini tidak mudah.inilah rumitnya menjadi guru.Sering alamat alamat tidak baik tentang perilaku dan akhlak ditujukan pada ketidak profesionalisme guru.Padahal kompetensi profesi dan paedagogik sudah dilakukan dengan baik dan itu bisa dilihat buktinya disekolah.Akan tetapi ketika dirumah maka perilaku pesdik tentu tidak dapat dikontrol oleh seorang guru.Yang kelihatan menyolok pengaruh dunia luar pendidikan terhadap cara berfikir anak adalah keengganan dan kemalasan anak untuk melakukan proses berfikir menemukan masalah,yang biasa kita sebut budaya berfikir instan.
       Budaya berfikir instan itu bisa disebabkan oleh beberapa hal:
1.Pola mengajar guru pada tahap-tahap awal anak mengenal bvelajar(pendidikan usia dini) yang tidak menggunakan pendekatan proses.
2.Penyajian soal-soal tes yang hanya menggunakan tes model pilihan ganda,baik di UH,UTS,UAS maupun UN.Penyajian soal model ini akan memicu guru maupun pesdik hanya melakukan kegiatan bagaiman menjawab yang benar dengan cepat dan tepat.maka tak asing jika di lembaga bimbingan selalu ditekankan bagaimana cara menjawab soal dengan cepat dan tepat tanpa melalui proses berfikir yang benar dan metode yang benar.
3.Kepribadian guru yang hanya suka memberi nilai di atas kertas,tidak mau peduli terhadap proses anak dalam belajar,artinya tidak menggunakan penilaian yang autentik.
4.Kebijakan pemerintah yang kurang memberi ruang untuk terlaksananya proses berfikir yang berkembang,misalnya tidak adanya alokasi waktu untuk jam-jam praktik sehingga anak hanya dijejali teori tanpa diberi kesempatan membuktikan teori tersebut seperti metodenya para penemu.
5.Pengaruh peralatan multimedia yang menyajikan banyak kemudahan ,sehingga enggan untuk berfikir menemukan.
6.Pengaruh kehidupan sosial masyarakat dan keluarga yang konsumtif.